Sejarah islam
Kronologi Umar bin Khatab masuk Islam
Tidaklah shahih riwayat yang menetapkan secara pasti waktu masuk Islamnya Umar. Akan tetapi, Ibnu Ishaq menyebutkan setelah hijrah ke Habasyah dan dari jalan lain disebutkan setelah hijrah ke Habasyah yang pertama (Fathul Bari, Ibnu Hijar, Sirah, Ibnu Hisyam). Riwayat Al Waqdidi menetapkan waktunya, yaitu pada bulan Dzulhijjah tahun VI dari Bitsah, ketika ia berusia 26 tahun sebagaimana riwayat riwayatnya Al Waqdidi yang lain menyebutkan bahwa jumlah umat Islam adalah 40 atau 50 atau 56, 10 atau 11 orang diantaranya adalah kaum wanita (Fathul Bari)
Umar adalah seorang lelaki yang kuat dan disegani dan ia termasuk yang mengganggu dan keras terhadap umat Islam. Said bin Zaid bin Amr bin Thufail yang merupakan anak sepupu paman Umar dan suami adik kandungnya Fathimah binti Al Khatab , berkata, “Demi Allah aku telah melihat pada diriku bahwa sesungguhnya Umar harapan kepercayaanku untuk masuk Islam sebelum ia masuk Islam.(Shahih Al Bukhari, Fathul Bari)
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi'ah bertemu dengan orang-orang Quraisy dalam keadaan gagal menarik pulang sahabat-sahabat Rasululah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan Najasyi tidak memperkenankan permintaan mereka, pada saat itulah Umar bin Khaththab memeluk Islam. la sosok yang mempunyai harga diri yang tinggi dan anti penghinaan.
Sahabat sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terlindungi dengan masuk Islamnya Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib hingga membuat orang-orang Quraisy tidak lagi berani menyiksa mereka.
Abdullah bin Mas'ud berkata: "Dulunya kami tidak berani shalat di samping Ka'bah sebelum Umar bin Khaththab masuk Islam. Ketika Umar bin Khaththab masuk Islam, ia memenangi duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia bisa shalat di samping Ka'bah dan kami pun ikut shalat bersamanya." Masuk Islamnya Umar bin Khaththab terjadi setelah beberapa sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhijrah ke Habasyah.
Ummu Abdullah berkata: Sejurus kemudian, Amir datang dan berkata kepadanya: "Wahai Abu Abdullah, andaikata engkau tadi melihat kelembutan dan duka cita Umar bin Khaththab atas kepergian kita?"
Amir berkata: "Apakah dia sudah masuk Islam?"
Ummu Abdullah berkata: "Aku berkata: "Entahlah!"
Amir berkata: "Umar tidak akan mungkin masuk masuk Islam hingga keledainya masuk Islam."
Ummu Abdullah berkata: "Dia mengatakan hal itu karena merasa putus asa melihat sikap keras Umar bin Khaththab dan kebenciannya sangat keras kepada Islam." (Sirah, Ibnu Hisyam)
Dan ada riwayat lain, Nabi telah bedoa kepada Allah untuk keislamannya. At Thabrani dari Ibnu Mas’ud dan Anas, bahwa Nabi Muhammad bersabda dalam doanya, “Ya Allah, kokohkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cinta, dengan Umar bin Khatab atau dengan Abu Jahal bin Hisyam.” Ternyata orang yang paling dicintai Allah adalah Umar bin Khatab. (Sirah, Syaikh Syafiyurahman Al Mubarakfuri)
Lalu beliau (Nabi Muhammad) membaca ayat,
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍوَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ
Artinya :
Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. (Al Haqqah 40 -41)
Inilah awal mula benih islam merasuk ke dalam hati Umar bin Khatab. Tetapi, sisa sisa Jahiliyah dan fanatisme terhadap tradisi yang sudah mendarah daging serta pengagungan terhadap agama leluhur tetap tampil sebagai pemenang dari inti hakikat yang merasuk kedalam hatinya. Sehingga dia tetap bersikeras memusuhi Islam, tidak peduli terhadap perasaan yang bersembunyi dibalik selubung itu.
Ibnu Ishaq berkata: Mengenai sebab masuk Islamnya Umar bin Khaththab seperti disampaikan kepadaku bahwa saudara perem- puannya Fathimah binti Khaththab yang bersuamikan Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail telah sama-sama masuk Islam tanpa sepengetahuan Umar bin Khaththab.
Nu'aim bin Abdullah An-Nahham, salah seorang dari kaumnya yaitu Bani Adi bin Ka'ab juga telah masuk Islam dan merahasiakan keislamannya karena khawatir kepada kaumnya. Khabbab bin Al-Arat sering bolak balik pulang pergi ke rumah Fathimah binti Khaththab guna membacakan Al-Qur'an kepadanya. Pada suatu ketika, Umar bin Khaththab keluar berniat berduel dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beberapa sahabat beliau, yang sedang berkumpul di salah satu rumah di bukit Shafa.
Mereka berjumlah sekitar empat puluh orang; laki-laki dan perempuan. Ketika itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkumpul bersama Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Bakar bin Abu Quhafah Ash Shiddiq, dan Ali bin Abu Thalib. Sahabat-sahabat yang hadir di rumah tersebut adalah sahabat-sahabat yang tetap tinggal bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah dan tidak ikut hijrah ke Habasyah.
Di tengah jalan, Umar bin Khaththab bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah.
" Nu'aim bin Abdullah bertanya kepada Umar bin Khaththab: "Mau pergi ke mana, wahai Umar?"
Umar bin Khaththab menjawab: "Aku hendak pergi mencari Muhammad, orang yang keluar dari agama kita, yang memecah belah persatuan orang-orang Quraisy, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita, melecehkan, dan menghina agama kita, untuk aku bunuh dia.
" Nu'aim bin Abdullah berkata kepada Umar bin Khaththab: "Demi Allah, engkau bodoh sekali bila bertindak demikian, wahai Umar. Apakah Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu hidup setelah engkau membunuh Muhammad? Kenapa engkau tidak pulang kepada keluargamu dan meluruskan persoalan mereka?"
Umar bin Khaththab berkata: "Keluargaku yang mana?"
Nu'aim bin Abdullah berkata: Ya, saudara iparmu yang juga saudara misanmu Sa'id bin Zaid bin Amr, dan Fathimah bin Khaththab, demi Allah, keduanya telah masuk Islam, dan menganut agama Muhammad, perhatikan dulu keduanya."
Umar bin Khaththab segera bergegas berbalik arah menuju rumah saudarinya dan saudara iparnya. Ketika itu di rumah mereka berdua ada Khabbab bin Al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha. Ketika mereka bertiga mendengar suara Umar bin Khaththab, Khabbab bin Al-Arat bersembunyi di rumah kecil persembunyian atau di salah satu bagian rumah, sedang Fathimah binti Khaththab bergegas mengambil lembaran surat Thaha dan menyembunyikannya. Saat mendekati rumah tersebut Umar bin Khaththab telah mendengar bacaan surat Thaha oleh Khabbab.
Tatkala Umar bin Khaththab telah masuk rumah, ia berkata: "Suara apa yang aku dengar tadi?"
Sa'id bin Zaid dan Fathimah menjawab: "Aku tidak mendengar suara apa-apa."
Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, sungguh aku telah menerima kabar bahwa kalian berdua telah memeluk agama Muhammad."
Kemudian Umar bin Khaththab menghajar saudara iparnya, Sa'id bin Zaid, dan Fathimah pun bangkit melindunginya dari pukulan Umar bin Khaththab. Umar bin Khaththab tanpa sengaja menghajar Fathimah hingga terluka.
Karena Umar bin Khaththab bersikap seperti itu, Fathimah dan suaminya berkata: "Benar, kami berdua telah memeluk agama Islam, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Silahkan lakukan apa saja yang engkau mau terhadap kami." Ketika Umar bin Khaththab melihat darah yang menetes di tubuh adik perempuannya ia menyesal atas tindakannya.
Sadar akan kesalahan yang dilakukannya ia berkata kepada adik perempuannya: "Bolehkah aku melihat lembaran yang aku dengar tadi agar aku melihat apa sebenarnya yang dibawa Muhammad."
Umar bin Khaththab adalah seorang yang pandai menulis.
Mendengar Umar bin Khaththab berkata seperti itu,
adik perempuannya berkata: "Sungguh, kami khawatir engkau merobekrobek lembaran tersebut."
Umar bin Khaththab berkata: "Engkau tidak perlu khawatir!!. Umar bin Khaththab bersumpah kepada adik perempuannva dengan menyebut nama Tuhannya, bahwa ia pasti mengembalikan lembaran tersebut kepadanva apabila telah selesai membacanya.
Ia berkata kepada Umar bin Khaththab: "Wahai saudaraku, sesungguhnya engkau najis, karena engkau seorang yang musyrik. Lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang rang suci."
Kemudian Umar bin Khaththab berdiri, lalu mandi. Usai mandi, Fathimah memberikan lembaran tersebut kepadanva. Di lembaran tersebut tertulis: 'Thaaha.' Umar bin Khaththab membacanya. Ketika ia membaca permulaan surat tersebut, hingga berhenti pada firman Allah
ia berkata: "Betapa indahnya dan mulianya perkataan ini!" Ketika Khabbab bin Al-Arat mendengar ucapan Umar bin Khaththab tersebut, ia keluar dari persembunyiannya dan menemui Umar bin Khaththab.
Khabbab bin Al-Arat berkata kepada Umar bin Khaththab: "Wahai Umar, demi Allah, aku berharap kiranya Allah menjadikanmu sebagai orang yang didoakan Nabi-Nya, karena kemarin aku mendengar beliau bersabda: 'Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Abu Al-Hakam bin Hisyam atau dengan Umar bin Khaththab.' Maka bersegeralah wahai Umar."
Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Khabbab, ada di mana Muhammad kini berada agar aku bisa menemuinya lalu aku masuk Islam."
Khabbab bin Al-Arat berkata kepadanya: "Beliau berada di Shafa di sebuah rumah bersama beberapa orang sahabatnya."
Umar bin Khaththab mengambil pedangnya, dengan terhunus sambil berjalan menuju tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Ia mendobrak pintu rumah tempat berkumpulnya para sahabat. Ketika mereka mendengar suara Umar bin Khattab,salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengintip dari celah- celah pintu dan melihat Umar bin Khaththab sedang menghunus pedang. Sahabat tersebut kembaii kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sdlam dalam keadaan sangat ketakutan.
“Ada apa kalian ini?” tanya Hamzah
“Ada Umar”. Mereka menjawab
Hamzah bin Abdul Muthalib berkata: "Jangan pedulikan dia. Jika ia menginginkan kebaikan, kita beri padanya kebaikan. Jika keburukan vang dia inginkan, kita akan habisi dia dengan pedangnya sendiri."
Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Biarkanlah saja dia masuk."
Rasulullah turut campur tangan dengan memberi isyarat agar Hamzah menghampiri Umar. Maka dia menemui Umar diluar lalu membawanya bertemu beliau didalam satu ruangan. Beliau memegang baju dan pegangan pedangnya, lalu menariknya dengan tarikan yang keras, seraya bersabda, “Apakah engkau tidak mau menghentikanmu wahai Umar, hingga Allah menurunkan kehinaan dan bencana seperti menimpa Al Walid bin Al Mughirah? Ya Allah. Inilah Umar bin Khatab. Ya Allah kokohkanlah Islam dengan Umar bin Khatab.”
Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, aku datang menemuimu untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan apa saja yang engkau bawa dari Allah." Mendengar jawaban Umar bin Khaththab, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertakbir dengan keras. Dengan takbir itulah sahabat-sahabat di rumah tersebut paham bahwa Umar bin Khaththab telah masuk Islam sehingga takbir mereka bisa didengar orang yang di Masjidil Haram. (Tarikh Umar bin Khatab, Mukhtasar Siratil Rasul, Sirah, Ibnu Hisyam)
Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam begitu senang dengan keislaman Umar bin Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka sadar sepenuhnya bahwa keduanya akan membentengi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan dengan keduanya mereka menghadapi musuh-musuh Islam. Itulah kisah para perawi'Madinah tentang keislaman Umar bin Khaththab.
Umar adalah orang memiliki watak temperamental dan sulit dihalangi. Sehingga keislamannya mengguncangkannya orang orang musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka. Sebaliknya, hal itu mendatangkan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang orang Muslim.
Sumber :
Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam
Sirah Nabawiyah, Syaikh Syafiyurahman Al Mubarakfuri
Shahih Sirah Nabawiyah, Akram Dhiya’ Al Umuri






Komentar
Posting Komentar